Kemampuan Emiten Pasar Konsumen Tercatat Beragam di tempat 2023, Simak Rekomendasi Sahamnya

Kemampuan Emiten Pasar Customer Tercatat Beragam di dalam tempat 2023, Simak Rekomendasi Sahamnya

JAKARTA. Emiten pada sektor ritel sudah pernah merilis hasil kinerjanya sepanjang 2023. Hasil kinerja emiten ritel ini beragam, ada yang bertambah signifikan juga ada yang mana mengantongi rugi. 

PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) mengumumkan laporan keuangan tahun buku 2023 dengan perolehan pendapatan sebesar Simbol Rupiah 60,1 triliun. Pendapatan emiten distributor serta retail handset ini meningkat 21,6% dari Rupiah 49,5 triliun pada tahun 2022. 

Bacaan Lainnya

Meski begitu, Erajaya Swasembada mencatatkan data penurunan pada laba pasca pajak yang diatribusikan terhadap pemilik entitas induk sebesar 18,44% menjadi Rupiah 826,05 miliar jikalau dibandingkan dengan tahun 2022 yang digunakan mencapai Simbol Rupiah 1,01 triliun.

Melansir laporan keuangan ERAA, selain kenaikan beban pokok, beban pelanggan kemudian beban umum, tekanan laba juga disebabkan oleh beban keuangan yang digunakan naik lebih banyak dari dua kali lipat menjadi Rupiah 601,11 miliar dari sebelumnya Simbol Rupiah 289,67 miliar.

Wakil Direktur Utama Erajaya Swasembada Hasan Aula mengatakan, tahun 2023 merupakan tahun yang digunakan penuh dinamika. Ada kesempatan sekaligus tantangan dari kondisi perekonomian nasional juga global yang digunakan menghadirkan dampak pada pola konsumsi serta gaya hidup masyarakat. 

“Erajaya mengawasi dinamika ini sebagai salah satu kesempatan untuk mengembangkan vertikal bidang usaha kemudian jaringan ritel kami,” ungkap Hasan, di siaran pers, Mulai Pekan (1/4). 

Selain itu Hasan mengungkapkan dengan ekspansi yang dimaksud sudah pernah diadakan sepanjang tahun 2023, fokus selanjutnya adalah meningkatkan produktivitas dan juga profitabilitas gerai-gerai yang digunakan baru dibuka selama 2 tahun terakhir. Fokus yang mirip juga akan diberikan untuk vertikal bidang usaha yang baru dikembangkan melalui pertimbangan yang mana cermat. 

“Kami optimistis bahwa hal ini dapat melanjutkan kesempatan pertumbuhan bisnis,” ujarnya.

Hal mirip juga terjadi pada Emiten ritel PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). MAPI berhasil mencetak pertumbuhan pendapatan sepanjang 2023. Kendati demikian, laba bersih MAPI justru terkoreksi hingga dua digit di area tahun lalu.

Melansir laporan keuangan yang dirilis di tempat laman Bursa Efek Indonesia, MAPI membukukan pendapatan bersih senilai Simbol Rupiah 33,31 triliun di tempat 2023. Angka yang disebutkan naik 23,69% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Mata Uang Rupiah 26,93 triliun. 

Dari sisi bottom line, MAPI membukukan laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan untuk pemilik entitas induk sebesar Mata Uang Rupiah 1,89 triliun. Capain ini turun 10,59% secara tahunan dari Rupiah 2,11 triliun.

Berbeda, PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) berhasil meraup pertumbuhan pendapatan kemudian laba bersih hingga belasan persen. Melansir laporan keuangan yang mana dirilis Mulai Pekan (1/4), ACES meraup laba bersih hingga Simbol Rupiah 763,5 miliar pada sepanjang tahun 2023, berkembang sebesar 14,9% ketimbang Mata Uang Rupiah 664,3 miliar dalam tahun 2022.

Sejalan dengan merekahnya laba ACES di area tahun 2023, pelanggan juga meningkat. ACES mencatatkan data pemasaran Simbol Rupiah 7,61 triliun di area tahun lalu. Penjualan emiten ritel ini naik 12,57% apabila jika dibandingkan dengan dengan tahun sebelumnya Rupiah 6,76 triliun.

Sementara beban pokok pendapatan ACES meningkat 11,9% menjadi Rupiah 3,91 triliun. Alhasil, laba kotor ACES meningkat 13,16% YoY menjadi Rupiah 3,69 triliun. ACES juga mencatat  total aset di area 2023 sebesar Simbol Rupiah 7,75 triliun atau meningkat 6,95% jikalau dibandingkan tahun sebelumnya. 

Berbeda dengan Emiten ritel PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) yang mana mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan pada 2023 namun masih mencatat penurunan laba bersih sepanjang tahun lalu.

Melansir laporan keuangan per 31 Desember, LPPF membukukan laba yang diatribusikan untuk pemilik entitas induk sebesar Simbol Rupiah 675,36 miliar. Hal ini merosot 51,17% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rupiah 1,38 triliun. Sementara dari sisi top line, LPPF mampu membukukan pendapatan bersih Simbol Rupiah 6,53 triliun pada 2023. Angka ini meningkat 1,30% secara tahunan dari Rupiah 6,45 triliun di area tahun sebelumnya. 

Tekanan ini nampaknya datang dari beban pokok pendapatan LPPF yang digunakan naik dari Mata Uang Rupiah 2,05 menjadi Simbol Rupiah 2,22 triliun hingga tutup 2023. Kemudian beban perniagaan LPPF juga terpantau naik dari Rupiah 2,8 triliun menjadi Mata Uang Rupiah 3,1 triliun. Selain itu, LPPF juga mencatatkan kerugian lainnya-bersih sebesar Rupiah 28,37 miliar sepanjang tahun lalu. Hal ini berbalik dari keuntungan lainnya-bersih pada 2022 senilai Simbol Rupiah 255,59 miliar.

Hal mirip juga masih dialami PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) yang mana mencatatkan kinerja sepanjang tahun 2023 masih kembali mengalami penurunan. 

Melansir laporan keuangan dirilis di dalam laman Bursa Efek Indonesia, MPPA mencatat pendapatan serta pelanggan bersih sepanjang tahun 2023 berada di area bilangan Rupiah 6,91 triliun. Angka yang dimaksud menurunkan sebesar 1,4% apabila dibandingkan dengan tahun sebelum yang dimaksud berada pada bilangan bulat Mata Uang Rupiah 7,01 triliun.

Di sisi lain, MPPA juga mencatatkan kerugian sepanjang tahun 2023 mengecil dari Simbol Rupiah 430 miliar di dalam tahun 2022 menjadi Rupiah 255 miliar dalam 2023. Penurunan kerusakan ini menurut manajemen MPPA adalah efek dari kegiatan optimalisasi juga efisiensi yang tersebut dijalankan MPPA menghasilkan kembali penghematan yang substansial sebesar Mata Uang Rupiah 98 miliar. Hal ini sekaligus menunjukkan komitmen MPPA terhadap keunggulan operasional kemudian manajemen biaya. 

Sementara untuk beban pokok pelanggan juga turun tipis menjadi 5,706 triliun dari sebelumnya di tempat nomor Simbol Rupiah 5,735 triliun. Begitu pula dengan total aset MPPA yang dimaksud juga masih menunjukan penurunan sebesar 3,7% menjadi Mata Uang Rupiah 3,64 triliun di area tahun 2023. 

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengawasi hasil kinerja emiten ritel sepanjang tahun 2023 secara kinerja top line ada beberapa emiten memang benar yang digunakan masih dibawah ekspektasi.

“Seperti LPPF juga MPPA masih dalam bawah ekspektasi,” kata beliau pada Kontan Rabu (3/4).

Sejauh ini menurut Aziz kinerja ACES yang paling menarik dikarenakan baik secara top line dan juga bottom line kinerjanya tumbuh. Sementara menurutnya untuk ritel yang digunakan segementasinya middle up masih miliki kemungkinan meningkat positif di dalam tahun ini.

“Karena memang benar daya beli yang dimaksud masih terjaga jika dibandingkan dengan dengan penduduk middle/middle low,” ucapnya.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus juga mencermati kinerja emiten pada tahun 2023 sejauh ini yang digunakan menarik menurutnya adalah ACES kemudian MAPI dari sisi prospek industri juga pertumbuhan. 

“Meskipun MAPI secara kinerja mengalami penurunan namun secara kegiatan bisnis masih menarik,” jelasnya.

Untuk prospek di dalam tahun 2024, Maximilianus menyatakan sektor ritel berpotensi untuk terus pulih dimana didukung oleh terjaganya daya beli lalu konsumsi, consumer confidence index yang digunakan terus membaik. Meski begitu menurutnya tidaklah semua emiten ritel akan mendulang manis, sebab semua akan kembali terhadap bisnisnya. 

“Apalagi moment lebaran akan menyokong peningkatan kegiatan akibat adanya THR,” kata Maximilianus. 

Dengan begitu maximilianus merekomendasikan  untuk mencermati saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dengan target harga jual Simbol Rupiah 2.350 per saham. Sedangkan, Azis merekomendasikan untuk buy pada saham PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) dengan target tarif Mata Uang Rupiah 1.060 per saham.




Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *